![]() |
PERITONITIS=== |
Angka kejadian peritonitis sampai saat ini belum
diketahui secara pasti, namun yang pasti diketahui adalah diantara seluruh
jenis peritonitis, peritonitis sekunder merupakan peritonitis yang paling sering
ditemukan dalam praktik klinik. Hampir 80% kasus peritonitis disebabkan oleh
nekrosis dari traktus gastrointestinal. Terdapat perbedaan etiologi peritonitis
sekunder pada negara berkembang (berpendapatan rendah) dengan negara maju. Pada
negara berpendapatan rendah, etiologi peritonitis sekunder yang paling umum,
antara lain appendisitis perforasi, perforasi ulkus peptikum, dan perforasi
tifoid. Sedangkan, di negara-negara barat appendisitis perforasi tetap
merupakan penyebab utama peritonitis sekunder, diikuti dengan perforasi kolon
akibat divertikulitis. Tingkat insidensi peritonitis pascaoperatif
bervariasi antara 1%-20% pada pasien yang menjalani laparatomi (An-Huang,
2015).
Definisi
Peritonitis adalah peradangan rongga peritoneum yang diakibatkan oleh
penyebaran infeksi dari organ abdomen seperti apendisitis pancreatitis, rupture
apendiks, perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis (Padila, 2012:
191).
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum
(lapisan membran serosa rongga abdomen) dan organ di dalamnya (Muttaqin &
Sari, 2011: 513).
Etiologi
Sedangkan Muttaqin & Sari (2011: 513)
menjelaskan bahwa penyebab terjadinya peritonitis adalah invasi kuman bakteri
ke dalam rongga peritoneum. Kuman yang paling sering menyebabkan infeksi
meliputi gram negatif: Escherichia coli (40%), Klebsiella pneumoniae (7%),
Pseudomonas species, Proteius species, gram negatif lainnya (20%), dan gram
positif seperti Streptococcus pneumoniae (15%). Invasi kuman ke lapisan
peritoneum dapat disebabkan oleh berbagai kelainan pada sistem gastrointestinal
dan penyebaran infeksi dari organ di dalam abdomen atau perforasi organ
pascatrauma abdomen.
0 komentar:
Posting Komentar
BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK By. Ludiana, M.Kes